Menu

Mode Gelap

Lainnya 09:30 WIB ·

BUDAYA POLITIK DALAM KONTESTASI PILEG PADA PEMILU 2024


					BUDAYA POLITIK DALAM KONTESTASI PILEG PADA PEMILU 2024 Perbesar


*BUDAYA POLITIK DALAM KONTESTASI PILEG DI PEMILU 2024*

PESTA demokrasi telah usai. Rakyat telah memberikan keputusan terhadap masa depan daerah. Rakyat tentunya telah mempunyai pertimbangan yang cukup matang dalam memberikan suara mereka, tinggal sekarang bagaimana para anggota dewan yang terpilih memposisikan diri mereka sebagai anggota dewan yang mempunyai tugas memperjuangkan amanat dan kepentingan rakyat.

Pilihan rakyat untuk memberikan kepercayaan kepada para anggota dewan merupakan bentuk partisipasi dalam menjaga demokrasi. Harapan besar tentunya kita “gantungkan” di pundak para anggota dewan yang baru terpilih. Lima tahun kedepan adalah waktu bagi rakyat memberikan penilaian terhadap program dan kinerja yang akan dilaksanakan oleh para angota dewan. Apakah produk-produk hukum yang dihasilkan sebagai pedoman dan pijakan dalam membuat kebijakan akan memihak rakyat atau memihak golongan tertentu.


*Begitu mahalnya ongkos Politik untuk menjadi Anggota DPRD Kabupaten Magelang yang setiap calon legislatifnya selalu mengatasnamakan rakyat namun untuk menjadi Anggota Legislatif mereka harus mengeluarkan biaya sampai Milyaran.*

Baca juga:  Calon DPD RI Abdul Kholik Targetkan suara 4,5 juta di Jawa Tengah

Habis milyaran pun belum tentu jadi, lantas pertanyaannya… Apakah setelah duduk menjadi anggota dewan….. Benar² murni memperjuangkan rakyat….? Tidak memikirkan bagaimana cara agar kembali modal beserta keuntungannya untuk kembali dijadikan modal di ajang pemilu berikutnya..?

Bagaimana perjuangan seorang caleg yang hanya bermodal semangat beserta visi misi hancur oleh serangan fajar yang begitu massivenya dilakukan oleh Caleg dari banyak partai.

Dalam sejarah pemilu di Indonesia, hanya Pemilu 1955 dan 1999 yang di nilai sebagai Pemilu yang bersih yang diikuti oleh semangat riang gembira rakyat untuk datang ke TPS yang lalu menghasilkan Anggota-Anggota Dewan yang berkualitas.

Ada wajah lama dan juga ada wajah baru. Wajah lama ada yg mencalonkan untuk kedua kalinya, bahkan ada yg ketiga sampai keempat kalinya. Tak jadi soal, apakah wajah lama atau baru, yang penting ekspektasi masyarakat nantinya terpenuhi. Sehingga seiring dengan pengetahuan masyarakat tentang politik yang semakin maju itu, tuntutan mereka juga semakin meningkat terhadap kualitas calon-calon yang akan dipilihnya.

Baca juga:  Jangan Salah Pilih Untuk Gubernur Jawa Tengah

Kualitas yang dimaksud tentu bukan seberapa banyak gelar yang disandang oleh calon anggota legislatif, pun bukan seberapa populer, seberapa banyak modal uang yang telah keluar. Namun kualitas yang dimaksud adalah seberapa konsisten para Legislator itu membawa dan memperjuangkan aspirasi rakyat pada umumnya dan konstituen pada khususnya, serta seberapa besar perubahan yang dilakukan terkait dengan tugas dan fungsi kelembagaan.

Rakyat pada umumnya sudah muak melihat kelakuan anggota legislatif di beberapa daerah selama ini, mulai dari melakukan tindak pidana korupsi, rapat tidak hadir, tidur atau baca koran saat rapat. Kelakuan itu semua berakibat target legislasi tidak tercapai, abai terhadap aspirasi rakyat. Sebaliknya, anggota legislatif yang terhormat ini sering menuntut kenaikan fasilitas, mulai gaji, tunjangan, dan lain sebagainya. Padahal penghasilan mereka sudah besar, tetapi tidak berbanding lurus dengan kinerjanya. Bahkan terjebak pada hedonisme.

Memang ada beberapa anggota legislatif yang berkualitas, selalu tampil garang dalam mengkritisi kebijakan eksekutif, tulus dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan tampil bersahaja, namun prosentasenya kecil.

Baca juga:  Don Muzakir Hadir di Pasar Kajen Pekalongan dan Deklarasi Papera

Nah, apa harapan rakyat terhadap calon anggota legislatif hasil pemilu legislatif 2024 nanti? Yang diinginkan rakyat selain peningkatan kapasitas, adalah meningkatnya moralitas, integritas, dan etikabilitas.

Masyarakat tidak menuntut anggota legislatif seperti nabi atau malaikat –terlalu jauh. Cukuplah jika para anggota legislatif nanti menunjukkan ketulusan, kejujuran, dan bersungguh sungguh dalam membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Rakyat tidak butuh panggung tanpa isi, rakyat tidak butuh orang bicara sampai berbusa busa di berbagai talk show, tetapi hasilnya minim. Namun kembalilah pada hakikat menjadi anggota legislatif, yaitu sebagai wakil rakyat, titik. Bicaralah atas nama kepentingan rakyat, terutama rakyat yang diwakili, bukan bicara atas nama kepentingan pribadi atau partai.

“Dengan Kompleksitas hal diatas mari kita kawal dan bersamai Anggota DPRD Kabupaten Magelang nantinya dalam melaksanakan Tugas dan Tanggung jawabnya” pungkas Muslih dalam penyampaian pemikirannya

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sudaryono Calon Gubernur Jawa Tengah Tebar Hewan Kurban di Magelang

17 Juni 2024 - 14:05 WIB

Jangan Salah Pilih Untuk Gubernur Jawa Tengah

16 Juni 2024 - 16:57 WIB

Diskusi Publik Komunitas NGOPI GEMILANG (Ngobrol Politik Gerakan Masyarakat Sipil Magelang) Quo Vadis DPRD Kabupaten Magelang 2024-2029

14 Maret 2024 - 08:03 WIB

Keluarga Masyarakat Nelayan Hayati Perjuangkan Nasib Nelayan

2 Februari 2024 - 08:38 WIB

Calon DPD RI Abdul Kholik Targetkan suara 4,5 juta di Jawa Tengah

31 Januari 2024 - 20:01 WIB

Deklarasi Dukung Prabowo – Gibran di Lumbung PDIP Banyumas

28 Januari 2024 - 02:16 WIB

Trending di Lainnya