Menu

Mode Gelap

Opini & Ide 06:44 WIB ·

Cara Cerdas Masyarakat Mengatasi Kisis Pangan


					Cara Cerdas Masyarakat Mengatasi Kisis Pangan Perbesar

BBoneNews.Id – Masyarakat tidak perlu gentar menghadapi krisis ekonomi berwajah krisis pangan di waktu mendatang. Masyarakat memiliki bakat dan cadangan semangat untuk mengatasi krisis pangan ini.

Berkali-kali terbukti, dalam menghadapi datangnya berbagai krisis, termasuk krisis ekonomi (termasuk yang terjadi bersama dengan krisis kesehatan alias pandemi), masyarakat lebih tangguh dan trengginas serta bisa …mrantasi ing gawe.

Dalam menghadapi dan mengatasi krisis pangan yang mungkin berbarengan dengan krisis ekonomi mendatang masyarakat juga tetap tegak, menjadi masyarakat yang berhasil menjadi masyarakat mandiri dalam mengatasi krisis seperti ini.

Cara cerdas masyarakat atasi krisis pangan

Dalam masyarakat telah terbentuk ekosistem darurat, mekanisme dan sistem darurat dan memiliki berbagai sinyal atau alarm jika darurat pangan dan darurat ekonomi mendekat dan datang.

Ini semua terbentuk dan menguat dalam jangka panjang, mulai ketika masyarakat dijajah oleh orang asing, masa perjuangan melepaskan diri dari penjajahan itu, masa dinamika politik dan ekonomi yang diwarnai dengan pemberontakan yang hampir membuat Indonesia bukan Indonesia lagi.

Masa konsolidasi ekonomi dan sosial, masa kegaduhan politik saat reformasi dan masa masa kemudian ketika dominasi ekonomi dipegang oleh bukan pribumi dan ketika kaum pribumi bangkit melakukan konsolidasi ekonomi seperti sekarang Ini.

Apa yang harus secara serentak dipikirkan, dirancang dan dikerjakan ketika ada tanda atau sinyal bahwa krisis ekonomi dan krisis pangan mendekat?

1. Tetap percaya dan beriman kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana dan Maha Kaya.

2. Tetap percaya dan mengembangkan kesadaran bahwa krisis pangan dan krisis ekonomi ini akan bisa diatasi sendiri secara mandiri dan swadaya oleh masyarakat.

Baca juga:  Terapi Sex Agro

Dan jangan sekali-sekali membuka pintu pikiran untuk mengimpor bahan pangan, sebab negara lain pun sedang menghadapi krisis pangan dan krisis ekonomi.

3. Cara paling tepat untuk menghadapi krisis pangan adalah dengan mengembangkan kesadaran dan kemantapan bahwa upaya mengatasi krisis pangan harus berbasis produksi bahan pangan dan memproduksi bahan pangan berbasis tanah, lahan atau teritori masyarakat.

4. Masyarakat perlu mencanangkan, dalam kesadaran bersama bahwa mulai saat ini setiap butir tanah adalah lumbung pangan, setiap tanah tegalan, pekarangan, tanah lapang di pinggir sungai, halaman rumah halaman sekolah, halaman kantor, sawah, ladang, di sela-sela pohon hutan dan kebun adalah lumbung pangan.

Maksudnya, berpotensi digarap untuk menghasilkan pangan sehingga di tengah krisis pangan dunia atau krisis pangan di tingkat negara, justru di tingkat masyarakat terjadi surplus pangan.

5. Untuk mengubah setiap butir tanah menjadi lumbung pangan diperlukan manajemen tanam-menanam tanaman pangan yang rapi, menggunakan urusan logis serta dilakukan dengan simultan atau dalam kondisi keserentakan yang nyata.

6. Yang pertama dilakukan adalah pendataan tanah yang akan dilumbung-pangankan. Data tanah lengkap dengan lokasi, luas dan kualitas tanah serta jaringan airnya. Ini penting untuk meletakkan tanaman apa dimana lokasi tepatnya.

7. Untuk merealisasikan paket lumbung pangan, ada paket awal berdurasi atau berjangka 4 tahun. Setelah 4 tahun lumbung pangan bisa menggelinding sendiri, tiap-tiap hari bisa panen bahan makanan.

Baca juga:  Trilogi Strategi Swasembada Pangan

8. Apa yang ditanam agar dalam jangka 4 tahun lumbung pangan bisa jadi ( _dadi_ ) dan masyarakat bisa panen permanen?

Tanam saja pohon sukun. Pohon paling muda dibiakkan lewat stek, lewat semacam cangkok akar. Tutorial membiakkan pohon sukun bisa dicari di YouTube.

9. Tanaman sukun menghasilkan buah yang _maregi_, karbohidrat full, kalau melimpah hasilnya bisa dibuat tepung. Tanah yang terlantar atau kurang tergarap bisa ditanami sukun secara massif, sehingga kampung-kampung dan desa-desa menjadi kampung dan desa lumbung sukun.

10. Tentu waktu menunggu panen sukun yang butuh waktu 4 tahun, masyarakat memerlukan makanan. Makan apa?

Di sela pohon sukun bisa ditanam pohon yang bisa dipanen setahun sekali, semisal singkong. Jadi selama 4 tahun bisa panen singkong 4 kali. Lantas ketika menunggu singkong dipanen apa yang bisa dimakan?

Makan bahan makanan dari tumbuhan yang bisa 3 atau 4 kali dipanen selama setahun seperti padi atau jagung atau cantel atau lainnya.

Lantas selama menunggu panen tanaman pangan yang memerlukan waktu 3 atau 4 bulan, masyarakat makan apa?

Bisa makan pisang. Misalnya pisang maraseba yang cepat panen, makan waluh atau labu kuning atau lainnya. Semisal secara acak dapat menanam ubi ubian, talas talasan, buah buahan dan sebagainya.

Tentu menunggu semua itu bisa dipanen, maka yang bisa dimakan adalah hasil panen bahan makanan yang telah ada.

Jangan lupa banyak tanah di lereng bukit yang telah ditanami pohon aren atau kolang kaling. Dalam keadaan darurat benar pohon kolang kaling bisa ditebang dan diambil tepung sagunya untuk dijadikan bahan makanan.

Baca juga:  Sastra untuk Indonesia

Jadi sekarang 4 tahun menunggu panen sukun tetap ada yang bisa dipanen secara periodik, dengan menggunakan irama atau jadwal panen tanaman pangan yang menjadi tanaman antara itu.

Nah setelah 4 tahun bisa panen sukun yang tiap-tiap pohon menghasilkan ratusan butir sukun dengan irama harian dikombinasi dengan tanaman yang bisa dipanen setiap tahun, dikombinasikan dengan tanaman yang bisa dipanen setiap tiga bulan atau empat bulanan dan dikombinasikan dengan tanaman ubi-ubian dan talas-talasan, biji-bijian maka upaya menjadikan setiap butir tanah di Indonesia sebagai lumbung pangan bisa terealisasi. Dan kita bisa bebas dari krisis pangan yang ditakutkan orang itu.

Kalau sudah bisa bebas dari krisis pangan pada giliran berukuran krisis ekonomi dengan sendirinya bisa teratasi.

Nah orkestra tanam-menanam tanaman pangan yang seperti ini bisa dimulai sekarang.

Memanfaatkan tanah wakaf yang belum digarap, memaksimalkan tanah-tanah di sela rumah atau kebun, dekat hutan, bahkan tanah dekat makam yang biasanya juga tergarap.

Inilah salah satu arti berpikir terpadu tentang pangan sebagai faktor penting untuk membangun ketahanan pangan dan pertahanan pangan di masyarakat.

Penutup
Database tentang musim, curah hujan, aliran irigasi, percepatan pembuatan benih sukun dan benih lainnya, komando untuk menanam tanaman pangan, kordinasi, sinergi dan komunikasi serta dokumentasi setiap gerak dan langkah cerdas seperti juga diperlukan sehingga masyarakat bisa membuat narasi swasembada pangan dengan nyata dan sejati.[MWH, 2022]

Artikel ini telah dibaca 20 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sambut September Ceria, Warung Soto Bang Jack adakan Kegiatan Jumat Barokah

1 September 2023 - 08:57 WIB

Menumbuhan Kesadaran Ber “Falyatalattof”

20 Januari 2023 - 19:38 WIB

Terapi Sex Agro

20 Januari 2023 - 13:16 WIB

terapi sex, terapi sex sehat

Magnetisme Politik Indonesia 2024

11 Januari 2023 - 20:09 WIB

Sastra untuk Indonesia

11 Januari 2023 - 07:50 WIB

Trilogi Strategi Swasembada Pangan

6 Januari 2023 - 21:10 WIB

Trending di Filsafat