Menu

Mode Gelap

Jawa Tengah 13:02 WIB ·

Hilangnya Tukang nderes Pohon Kelapa Borobudur


					Hilangnya Tukang nderes Pohon Kelapa Borobudur Perbesar

BBOneNews.ID – Borobudur dan sekitarnya pada tahun 80-an dikenal sebagai pusat industri gula Jawa asli yang pemasarannya melingkupi hampir seluruh wilayah pulau Jawa. Hampir setiap makanan yang tersaji di sekitar borobudur adonan campurannya bisa dipastikan ada nilai unsur gula jawanya. Seperti singkong yang direbus dicampur gula Jawa, di Borobudur di kenal dengan “bajingan”, sementara di tempat lain biasa dikenal dengan ” kolak”. Atau seperti makanan ringan kayak kacang diguyur gula Jawa, dikenal dengan “kacang gula Jawa”. Atau ketika minum teh dan kopi di sekitar borobudur dipastikan akan tersaji dengan di jenis gula yang di taruh di tempat berbeda, yaitu gula batu dan gula Jawa yang sudah dipotong kecil kecil.

Begitulah mitos gula Jawa di seputaran candi Borobudur yang hampir rata rata pembuat industri gula Jawa pada waktu itu. Konon, candi Borobudur bisa tersusun rapi dan kokoh tidak roboh karena dalam perekat nya ada campuran gula jawanya.

Desa desa yang menjadi menjadi pusat industri gula Jawa di sekitar Borobudur adalah desa Sriwedari, Japunan, Sraten, Sodongan, Tuksongo, Bumi Segoro dan desa desa lainya karena hampir seluruh wilayah desa sekitar candi Borobudur produksi gula Jawa. Waktu itu masyarakat nya disamping sebagai petani juga sebagai pembuat gula Jawa asli Borobudur. Tiap pagi mereka memanjat pohon kelapa ‘nderes’ istilahnya, mengambil hasil deresan, dan satu orang bisa nderes antara 5-10 pohon mereka memanjat dan memasang nderesan itu sendiri. Dalam sekejap satu orang bisa mengambil hasil deresan dan memasangnya kembali untuk diambil di esok harinya.

Baca juga:  Siswa Kelas 3 SD Negeri Pasuruhan 1 Mertoyudan Magelang Menyelamatkan Sungai dari Sampah

Nderes kelapa, gula jawa borobudur
Pak Mujari (65 th) adalah salah satu yang tadinya dari ribuan tukang nderes yang masih tersisa. Dulu mungkin satu kampung bisa 3-5 orang tukang deres, sekarang satu kelurahan belum tentu ada tukang deres satu pun. Makanya, pak Mujari ini termasuk manusia langka di seputaran Borobudur yang menjadi orang satu satunya yang masih tersisa, meskipun tenaganya sudah tidak seperti dulu lagi. Cukup dengan 5 sampai 8 pohon sehari dengan menghasilkan 1 kg gula Jawa tiap harinya, pak Mujari menelateni pekerjaan turun temurun ini.

Dengan gembira Mujari, menelusuri tebing, naik turun panjat pohon kelapa, hanya sekedar melanjutkan kerja turun temurun.
“Kebahagiaan ku bukan hasil yang kudapatkan, tapi rutinitas ku naik turun pohon kelapa, menjadikan tubuhku tetap seimbang dalam setiap gerak langkahku, meskipun semua orang bilang kalau dengan umurku yang terus naik ini sebenarnya sudah tidak pantas lagi untuk panjat pohon tinggi tinggi. ” katanya.

“Kulo namun sak dermo nglakoni mas… Takdir apa pun namun waget kulo tampi tanpo nggersulo”. – Saya hanya sekedar melaksanakan takdir, saya terima tanpa mengeluh – katanya sambil tetap berjalan menaiki pohon berikutnya. Pak Mujari yang sudah menggendong cucu 3 anak dan tinggal bersama anak perempuan ragil nya beserta isteri tercinta, cukup bahagia dengan perjalanan hidup yang dijalaninya.

Bisa jadi contoh bahwa ketika kerja dijadikan ibadah, maka kerjaan itu pun menjadi berkah. Begitu pesan terakhirnya pak Mujari. (Red)

Baca juga:  Deklarasi Menangkan Prabowo - Gibran, Relawan Gibranku Purbalingga

Hilangnya Tukang ‘nderes’ Pohon Kelapa di Sekitar Borobudur

Borobudur dan sekitarnya pada tahun 80-an dikenal sebagai pusat industri gula Jawa asli yang pemasarannya melingkupi hampir seluruh wilayah pulau Jawa. Hampir setiap makanan yang tersaji di sekitar borobudur adonan campurannya bisa dipastikan ada nilai unsur gula jawanya. Seperti singkong yang direbus dicampur gula Jawa, di Borobudur di kenal dengan “bajingan”, sementara di tempat lain biasa dikenal dengan ” kolak”. Atau seperti makanan ringan kayak kacang diguyur gula Jawa, dikenal dengan “kacang gula Jawa”. Atau ketika minum teh dan kopi di sekitar borobudur dipastikan akan tersaji dengan di jenis gula yang di taruh di tempat berbeda, yaitu gula batu dan gula Jawa yang sudah dicuil cuil kecil kecil.

Begitulah mitos gula Jawa di seputaran candi Borobudur yang hampir rata rata pembuat industri gula Jawa pada waktu itu. Konon, candi Borobudur bisa tersusun rapi dan kokoh tidak roboh karena dalam perekat nya ada campuran gula jawanya. Desa yang menjadi menjadi pusat industri gula Jawa di sekitar borobudur adalah desa Sriwedari, japunan, sraten, sodongan, Tuksongo, Bumi Segoro dan desa desa lainya karena hampir seluruh wilayah desa sekitar candi Borobudur produksi gula Jawa.

Waktu itu masyarakat nya disamping sebagai petani juga sebagai pembuat gula Jawa asli borobudur. Tiap pagi mereka memanjat pohon kelapa ‘nderes’ isttilahnya, mengambil hasil deresan, dan satu orang bisa nderes antra 5-10 pohon mereka memanjat dan memasang nderesan itu sendiri.
Dalam sekejab satu orang bisa mengambil hasil deresan dan memasangnya kembali untuk diambil di esok harinya.
Pak Mujari (65 th) adalah salah satu yang tadinya dari ribuan tukang nderes yang masih tersisa. Dulu mungkin satu kampung bisa 3-5 orang tukang deres, sekarang satu kelurahan belum tentu ada tukang deres satu pun. Makanya, pak Mujari ini termasuk manusia langka di seputaran Borobudur yang menjadi orang satu satunya yang masih tersisa, meskipun tenaganya sudah tidak seperti dulu lagi. Cukup dengan 5 sampai 8 pohon sehari dengan menghasilkan 1 kg gula Jawa tiap harinya, pak Mujari menelateni pekerjaan turun temurun ini.
Dengan gembira Mujari, menelusuri tebing, naik turun panjat pohon kelapa, hanya sekedar melanjutkan kerja turun temurun.
“Kebahagiaan ku bukan hasil yang kudapatkan, tapi rutinitas ku naik turun pohon kelapa, menjadikan tubuhku tetap seimbang dalam setiap gerak langkahku, meskipun semua orang bilang kalau dengan umurku yang terus naik ini sebenarnya sudah tidak pantas lagi untuk panjat pohon tinggi tinggi. ” katanya.
“Kulo namun sak dermo nglakoni mas… Takdir apa pun namun waget kulo tampi tanpo nggersulo. ” katanya sambil tetap berjalan menaiki pohon berikutnya.

Baca juga:  Ayo ke Borobudur

Pak Mujari yang sudah menggendong cucu 3 anak dan tinggal bersama anak perempuan ragil nya beserta isteri tercinta, cukup bahagia dengan perjalanan hidup yang dijalaninya.
Bisa jadi contoh bahwa ketika kerja dijadikan ibadah, maka kerjaan itu pun menjadi berkah. Begitu pesan terakhirnya pak Mujari. [MbahRoso].

Artikel ini telah dibaca 299 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Deklarasi Menangkan Prabowo – Gibran, Relawan Gibranku Purbalingga

15 Januari 2024 - 08:56 WIB

17 BUMN Resmikan Program BUMN TEMAN BERSENYUM di Temanggung

20 November 2023 - 08:18 WIB

Relawan Bala Gibran Magelang Raya Bersukacita Setelah Putusan MK

17 Oktober 2023 - 11:23 WIB

BEM Universitas Ipwija Gunung Putri Bogor Adakan Kajian Gema Toleransi, Hadirkan Habib Husein Bin Muhsin

14 Oktober 2023 - 06:44 WIB

Doa Bersama Gubraner Magelang Raya: Ajang Konsolidasi Relawan Bala Gibran dan Gibraner Kabupaten Magelang

10 Oktober 2023 - 16:44 WIB

Barisan Relawan Gigih Berani Kedu Raya Menguatkan Dukungan terhadap Gibran Sebagai Cawapres 2024

30 Agustus 2023 - 17:27 WIB

Trending di Jawa Tengah