Menu

Mode Gelap

Jawa Tengah 09:26 WIB ·

Jepara dan Perempuan


					Yogyakarta, Indonesia - April 6, 2015: A choir of Javanese women sits cross legged on the floor during a daily ceremony at the Sultan's Palace in Java, which is also called the Kraton. Perbesar

Yogyakarta, Indonesia - April 6, 2015: A choir of Javanese women sits cross legged on the floor during a daily ceremony at the Sultan's Palace in Java, which is also called the Kraton.

JEPARA DAN PEREMPUAN
(Catatan tentang perempuan tiga zaman di Jepara).

Bentangan alam di Jepara adalah lenskap panjang tentang peradaban di tanah Jawa. Dikisahkan jauh sebelum abad ke IV Selat Muria merupakan wilayah laut yang memisahkan antara daratan Jawa dengan Gunung Muria. Wilayah ini menjadikan Jepara sekarang termasuk Kudus dan sebagian Pati berada terpisah di luar daratan Pulau Jawa, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya fosil hewan laut di Situs Purbakala Patiayam, Kudus.

Dahulu Selat Muria menjadi jalur transportasi dan perdagangan yang sudah ramai. Sering dilalui para pedagang manca negara jauh sebelum bandar- bandar lain di tanah Jawa berkembang. Jejak peradaban lama di Jepara dapat ditelisik dari peninggalannya. Misalnya keberadaan tenun ikat Jepara dengan keunikan motif. Motif ukiran unik juga merupakan bagian tidak terpisahkan sebagai hasil budaya yang kini menjadi salah satu ikon dari Jepara dengan sebutan “The World Carving Center”.

Sebuah makalah yang berjudul “Maritime Contacts of Kalinga with Java”, yang ditulis oleh Benudhar Patra – seorang peneliti India telah berkali-kali menyebut kawasan yang merupakan wilayah Jepara sekarang. Tulisan tersebut menyoal sejarah pada kisaran awal Masehi, yang mencatat perjalanan orang-orang India hingga diwilayah di Timur dan Tenggara dengan menggunakan armada laut. Penelitian tersebut mencatat adanya ekspansi budaya India yang berlayar sampai di tanah Jawa yang berlangsung sekitar tahun 75 masehi.

Penyebutan tahun 75 Masehi oleh peneliti India tersebut nampaknya relevan dengan penyebutan penanggalan dalam tradisi sejarah lokal di Pulau Jawa yang memperkirakan kedatangan Sang Aji Saka pada tahun 78. Penanggalan Romawi atau Masehi oleh Sultan Agung Mataram dikemudian waktu dipergunakan untuk menentukan tahun Jawa yang selanjutnya dikenal dengan sebutan tahun Saka atau tahun Jawa.

Perbedaan waktu yang sedikit berbeda antara versi cerita tutur maupun dalam babad tanah Jawa dengan peneliti sejarah dari India adalah hal yang biasa dalam penelitian teks-teks sejarah yang berkaitan dengan penanggalan. Seorang peneliti India RK Mookerji menyebutkan selama ini peneliti sejarah dari India hanya menyebutkan jika para penjelajah India sampai di tanah Jawa telah menerapkan teknologi maritim yang mampu mengarungi Samudra Hindia yang terkenal dengan badai dan para perompaknya. Para penjelajah India itu nyatanya mampu mengarungi samudra luas untuk sampai di pesisir utara Pulau Jawa.

Dalam Kitab Buddha yaitu Aryamanjusrimulakalpa, menyebutkan tentang keberadaan pulau-pulau yang berada di Laut Kalinga. Konteks penulisan naskah Buddha ini diperkirakan berasal dari masa berkembangnya ajaran Buddha Mahayana seiring dengan berkembangnya Kerajaan Sriwijaya.

Baca juga:  Don Muzakir dan Anggota DPR-RI, Novita, Sosialisasi Prabowo Presiden 2024 di Pasar Tanjung, Cilacap

Dalam berbagai versi maka akar kata Jepara berasal dari kata Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara yang saat ini berupa wilayah seluas -/+ 1.004 km persegi. Dan yang paling populer adalah Pulau Karimun Jawa yang disebut sebut sebagai salah satu surga bawah laut di Indonesia.

Kata Ujungpara berasal dari bahasa Jawa yang terdiri atas dua kata Ujung dan Para. Kata Ujung (seperti halnya dalam bahasa Indonesia) berarti “bagian darat yang menjorok jauh ke laut”, sedangkan kata Para, berarti “menunjukkan arah”, dengan demikian kedua kata tersebut jika digabung akan berarti suatu daerah yang letaknya menjorok jauh ke laut.

Sumber lain mengartikan Para sebagai Pepara, yang artinya bebakulan mrono mrene, yang kemudian diartikan sebuah ujung tempat bermukimnya para pedagang dari berbagai daerah. Orang Jawa menyebut nama Jepara menjadi Jeporo yang apabila menggunakan bahasa krama inggil menyebut Jepara menjadi Jepanten. Dalam bahasa Ingris disebut Japara, sedangkan orang Belanda menyebut dengan Yapara atau Japara.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Jepara, jauh sebelum kerajaan di tanah Jawa muncul maka di ujung utara pulau Jawa sudah ditinggali sekelompok penduduk yang diyakini berasal dari daerah Yunnan Selatan, China yang kala itu melakukan migrasi ke arah selatan.

Jepara dan Keling dalam beberapa literasi adalah bagian yang tidak terpisahkan meskipun wilayah Keling telah lebih dahulu disebutkan dari pada Jepara itu sendiri. Secara etimologiasal usul nama Keling berasal dari nama Kerajaan Kalingga, yang menjadi kata Keling.

Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belum jelas secara pasti namun diyakini berada di wilayah KelingKabupaten Jepara sekarang.

Di Puncak Gunung Muria (Rahtawu) yang dekat dengan Kecamatan Keling, Jepara terdapat empat arca batu yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog dan Wisnu yang sampai dengan sekarang belum ada yang dapat memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak Gunung tersebut yang sangat terjal dan curam. Situs ini ditemukan pada tahun 1990 oleh peneliti dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta l. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama pewayangan yaitu Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto dan Kamunoyoso.

Baca juga:  Refleksi Gerakan Masyarakat Sipil Magelang 2022

Terkait dengan eksistensi Jepara atau Kalingga maka dapat ditandai dengan adanya candi Angin dan candi bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah. Hal ini bisa menjadi salah satu sumber sejarah kerajaan Kalingga selain artefak juga bersumber dari catatan China maupun tradisi cerita run temurun (flokfor) masyarakat setempat serta naskah carita yang disusun berabad-abad kemudian yang menyinggung cerita tentang Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh.

Dalam berbagai catatan dan riwayat maka Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi yang keberadaannya lebih diketahui dari sumber – sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri maka akan dipotong tangannya.

Catatan Dinasti Tang telah menulis riwayat Ratu Sima yang menceritakan jika Ratu ini naik tahta pada 674 Masehi dan beberapa ahli memperkirakan waktu itu bersamaan dengan Kerajaan Tarumanegara di Pulau Jawa bagian barat dan Kutai Kertanegara di Borneo bagian Tenggara. WP Groeneveldt, peneliti Belanda yang juga seorang pendeta, mencatat bahwa Dinasti Tang ada dua versi. Versi pertama yang disebut sebagai sejarah lama Dinasti Tang (618-907) dan versi kedua yang disebut sebagai catatan Dinasti Tang yang lebih baru dan lebih lengkap penulisannya tentang utusan-utusan dari Jawa. Nama Jawa sudah disebut untuk menggantikan istilah Kaling.

Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa yang lokasinya diyakini ada di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini yang mana kawasan tersebut dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.

Mencermati segala peristiwa diwilayah Jepara pada masa lalu yang panjang maka tak mengherankan apabila Jepara memiliki banyak keistimewaan. Jejak masa lalu Jepara telah menyisakan kisah tiga perempuan yang sangat legendaris.

Perjuangan emansipasi tiga perempuan Jepara pada masa lampau telah mampu menggoreskan kisah monumental dalam tinta emas. Dengan segala keistimewaanya, Jepara tetap tidak bisa dilepaskan dengan dengan diksi emansipasi.

Manifestasi kesetaraan gender di Jepara sudah berlangsung sejak berabad abad yang lalu jauh sebelum gerakan itu muncul dibelahan Eropa. Sosok tiga perempuan hebat konon berasal dari Jepara yaitu Ratu Shima, Ratu Kalinyamat hingga RA. Kartini, ketiganya kini menjadi salah satu ikon dari Jepara yang diabadikan dalam Monumen Tugu yang terletak di Bundaran Ngabul Kabupaten Jepara.

Baca juga:  Desa Kalisegoro Ponpes PWNU Jateng

Monumen tugu tiga figur perempuan legendaris asal Jepara tersebut adalah Ratu Shima “Sang Pembeda dengan keadilannya”, Ratu Kalinyamat “Sang Srikandi dengan patriotisme” dan RA Kartini “Sang Pencerah dengan pelita ilmu dan pembuka tabir harkat kaum wanita.

Tugu tersebut dibangun sebagai monumen bagi para perempuan khususnya wanita Jepara agar dapat meneladani sikap ketiga sosok tersebut dalam hal emansipasi perempuan. Namun nampaknya segala perjuangan ketiga sosok perempuan itu tidak semuanya dapat diteladani oleh perempuan asli Jepara. Hal ini sekurangnya dapat dilihat dari data sebagaimana dirilis oleh https://www-solopos-com yang menyebutkan angka kasus perceraian di Kabupaten Jepara, terbilang tinggi sepanjang tahun 2021. Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Jepara bahkan mencatat ada 1.641 kasus perceraian per September 2021. Dikutip dari Detik.com, Rabu (29/9/2021), dari 1.641 kasus perceraian di Jepara per September 2021, sekitar 76% atau 1.262 perkara diajukan oleh pihak perempuan atau istri.

Demikian dalam berita yang dilansir https:// m-medcom-id.cdn menyebutkan geliat bisnis prostitusi tak hanya terjadi di tengah kota di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Bisnis esek-esek itu juga tersebar hingga pelosok desa. Kepala Bidang Penegakan Peraturan Daerah Satpol PP Jepara, Sutarno, menyampaikan tak ada lokalisasi di kabupaten tersebut. Tapi ia tak memungkiri keberadaan prostitusi di Jepara hingga sampai di pelosok desa.

Berdasarkan data dan indikasi tersebut maka yang terjadi yaitu lain dulu, lain sekarang sebab jika dahulu Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat adalah sosok pemimpin perempuan yang membawa kemajuan bagi Jepara, kemudian, perjuangannya dilanjutkan oleh RA Kartini, sebagai sosok yang berjuang keras untuk kesetaraan kaumnya melalui pendidikan. Di mana setiap tahun, kelahirannya selalu diperingati seluruh bangsa Indonesia. Namun yang terjadi sekarang berbeda jika ditilik dari data dan indikasi tersebut diatas.

Barangkali yang terjadi sekarang adalah bahwa tuntutan Kartini pada saat itu adalah untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal pendidikan, tapi dalam perkembangan zaman, tuntutan sudah mulai melampaui fitrah dan kodrat wanita.

Tuntutan itu dikenal dengan istilah emansipasi wanita, namun emansipasi menjadi kebablasan karena meniru emansipasi dari budaya barat. Kecenderungan emansipasi tersebut mengesampingkan kodrad wanita dan tidak sesuai dengan ajaran agama.

Seorang wanita, mempunyai kodrat yang tidak bisa dilepaskan. Adapun kodrat itu adalah kodrat melahirkan, kodrat menyusui dan kodrat menstruasi. Kodrat ini tidak bisa diubah ataupun diganti oleh laki-laki.[Sofyan Mohammad]
*Penulis adalah pehobi wisata dan kajian sejarah.

Artikel ini telah dibaca 26 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Deklarasi Menangkan Prabowo – Gibran, Relawan Gibranku Purbalingga

15 Januari 2024 - 08:56 WIB

17 BUMN Resmikan Program BUMN TEMAN BERSENYUM di Temanggung

20 November 2023 - 08:18 WIB

Relawan Bala Gibran Magelang Raya Bersukacita Setelah Putusan MK

17 Oktober 2023 - 11:23 WIB

BEM Universitas Ipwija Gunung Putri Bogor Adakan Kajian Gema Toleransi, Hadirkan Habib Husein Bin Muhsin

14 Oktober 2023 - 06:44 WIB

Doa Bersama Gubraner Magelang Raya: Ajang Konsolidasi Relawan Bala Gibran dan Gibraner Kabupaten Magelang

10 Oktober 2023 - 16:44 WIB

Kembaran Kampung Seniman (K2S) adakan Penampilan Seni Tradisional, Musik Keroncong Legendaris dan Koes Plus-an

31 Agustus 2023 - 08:43 WIB

Trending di Seni & Budaya