Menu

Mode Gelap

Hot News 01:52 WIB ·

Melepaskan Segala Keinginan


					Melepaskan Segala Keinginan Perbesar

BBOneNews,-KH Buya Syakur Yasin pimpinan pondok pesantren Cadang Pinggan, Indramayu semakin hari semakin dikenal. Dengan semakin gencarnya pendakwah ini upload di channel YouTube nya. Semakin banyak kajian kajian yang dikupas oleh KH Buya Syakur Yasin, semakin banyak pula orang yang merasa penasaran dengan kegiatan yang dilakukan dan dijalannya oleh santri santri KH Buya Syakur Yasin, seperti misalnya kegiatan Khalwat KH Buya Syakur Yasin yang berlangsung tiap tahun sekali, selama 40 hari tidur makan beribadah di alas Hutan Jati, Desa Cikawung, kecamatan Terisi, kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ketika pembukaan khalwat yang disiarkan secara langsung dari hutan lokasi khalwat lewat streaming. Bagi pemirsa yang belum mengenal kegiatan ini, tentunya bertanya tanya tentang acara yang sedang berlangsung, kenapa tausiyah mesti dilakukan di hutan? Dan mengapa banyak juga orang orang yang hadir di sana padahal waktunya di malam hari?
Begitu pun ketika penutupan di hari ke-40 pelaksanaan khalwat, yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah sekaligus pelaksanaan sholat Iedul Adha yang dilangsungkan di hutan, juga disiarkan secara langsung lewat channel YouTube KH Buya Syakur Yasin. Mungkin juga banyak orang bertanya-tanya, “kenapa pelaksanaan Sholat Ied mesti di hutan?”
Seperti yang dialami, salah satu pemirsa channel YouTube dari Medan Sumatera Utara, sebuta saja namanya May Mulkan Umar, merasa tertarik dan penasaran dengan kajian kajian KH Buya Syakur Yasin termasuk kegiatan khalwat tahunannya.
May, panggilan akrabnya. Sudah mengikuti kajian KH Buya Syakur Yasin lewat Youtube sudah bertahun tahun. Ada rasa penasaran dan keinginannya menemui beliau di tanah Jawa. Karena kesibukannya dan jarak yang tidak mudah untuk ditempuh oleh May, dia hanya bisa berharap dan memohon kepada Allah agar niat itu bisa terlaksana, entah kapan saatnya.
Karena untuk mendapatkan informasi seputar pesantren Cadang Pinggan dan santri youtubenya, May bergabung beberapa grup media sosial diantaranya grup WhatsApp Buya Syakur Yasin.
Ketika ada sahabat sahabat mayanya yang dari jauh yang berkunjung dan berfoto bersama KH Buya Syakur, kemudian dikirimkan ke grup WhatsApp nya. May hanya bisa memandang foto sahabatnya itu dengan tertegun membisu. Ada rasa kecemburuan dan kerinduan yang kuat untuk bisa sesegera mungkin melampiaskan keinginannya bertemu KH Buya Syakur Yasin, seperti sahabat sahabatnya.
Semakin melihat foto sahabatnya yang berfoto bersama KH Buya Syakur Yasin, semakin teriris pula hatinya dan menitikkan air mata sambil berdoa,”Yaa Allah..kalau memang Engkau berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa mempertemukan aku dengan KH Buya Syakur Yasin…’ begitu isaknya.
Kerinduan bertemu dengan KH Buya Syakur Yasin bukan tanpa alasan, kehidupan religinya yang begitu kering kerontang kini terbasuh dan tersirami deras dengan kajian kajian KH Buya Syakur Yasin yang mengguyur jiwanya.
Persoalan persoalan hidup yang dialaminya serasa dikoyak koyak bahkan ditelanjangi sedetail detailnya, meskipun selama ini dia tutup rapat rapat agar orang lain tidak mengetahuinya. Dia merasa tersindir dari salah satu kajian yang didengarnya dari gawai di tangannya.
Namun semua itu tidak menjadikan dirinya lari menjauh dan meninggalkan kajian kajian yang disampaikan KH Buya Syakur Yasin, meskipun dirinya merasa tertusuk tepat di jantungnya.
Tercabik cabiknya persoalan dirinya dari kajian yang didengarnya, membuat persoalan itu nampak terurai dengan terang permasalahan yang akan dihadapinya. Dengan tidak meninggalkan kajian yang membuatnya luluh lantak itu, sedikit demi sedikit ‘lego lego’ persoalannya mulai tersusun dengan rapih pada tempatnya membentuk rupa yang lebih baik dari sebelumnya.
Ketenangan hati dan jiwa yang selama ini hilang, kini dia mampu merebutnya kembali untuk menemani kehidupan yang dijalaninya. Itulah alasan kenapa dirinya merasa ingin harus berjumpa dengan KH Buya Syakur Yasin yang sudah menyadarkan dirinya untuk bangkit dari keterpurukan hidupnya.
Empat hari sebelum pelaksanaan khalwat, rupanya Allah mengabulkan doanya bisa pergi ke Jawa menemui KH Buya Syakur Yasin sekaligus ingin mengikuti kegiatan khalwat di hutan Sukatani Indramayu.
Kedatangannya di Pondok Pesantren Cadang Pinggan, Indramayu membuatnya gamang dan takut untuk bertemu dengan KH Buya Syakur Yasin, karena ini adalah kunjungan dan pertemuan pertama kalinya secara langsung.
Kekuatan dan daya dorong sejak dari Medan ternyata hilang begitu saja. Rasa cemas dan khawatir justru saling menyusul membuat jantungnya berdegup kencang. Dengan diantar dan dipertemukan oleh santri dan sahabat mayanya, Hj Masrokhah akhirnya sedikit ada daya dorong, meskipun jantungnya tetap dengan ritme yang tidak beraturan.
Setelah bersalaman dan duduk lesehan, keringat dingin justru tidak bisa terbendung dan diam 1001 bahasa, untuk memandang pun tak mampu. Hj Masrokhah memulai untuk memperkenalkannya dan disambut KH Buya Syakur Yasin dengan ramah untuk mengawali pembicaraan.
Dengan terbata bata karena detak jantung yang masih kencang, May menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Di akhir pembicaraannya, May memohon restu KH Buya Syakur Yasin untuk bisa mengikuti khalwat tahun ini.
Dalam perjalanan khalwatnya keinginan keinginan yg sebelumnya banyak berseliweran di benak secara perlahan mulai hilang. Untuk meminta ini dan itu kepada Allah rasanya menjadi malu. Bagaimanapun juga Allah sudah memberikan semua yg dibutuhkannya. Apalagi dirinya pernah teringat kajian KH Buya Syakur Yasin bahwa bersyukur menerima segala ketentuan dan keputusan Tuhan adalah puncaknya dari ibadah.
Sempat juga bertanya dalam hatinya, apakah ini buah dari riyadhoh puasa yg dilakukannya di siang hari dan istighasah di setiap malam selama berkhalwat? Dengan jasad yang di tindas maka ruhani pun akan bangkit seperti yang Buya sering sampaikan. Maka hilanglah segala keinginan keinginan yang sebelumnya meledak, yang membuat pikiran menjadi ramai, hati menjadi sumpek dan raga pun lelah.
Sampailah pada malam ke -17 pelaksanaan khalwat dimana bertepatan dengan tanggal 6 bulan 6 sebagai titik balik dirinya untuk melepaskan semua keinginan keinginan yang menyibukkan hati dan pikirannya. Dengan bersimpuh di malam itu, dalam doa yang dipanjatkannya berderailah air mata. Dirinya memproklamirkan untuk tidak menuntut apa apa lagi dari Tuhannya, yang dia minta hanyalah ampunan dariNya, Allah Rabbul ‘Alamin.
Hari harinya pun menjadi indah, semua menjadi ringan untuk dijalaninya, hati yang bahagia dan membiarkan hidup berjalan sesuai dengan ketentuanNya.
Semoga apa yang menjadi pengalaman khalwat yang dijalaninya, dengan hanya bergantung kepada Allah dan menjadi Istiqamah sampai berakhirnya kegiatan Khalwat KH Buya Syakur, dan dilanjukan kembali ke kehidupan sebenarnya di kampung halamannya, Medan.*

Baca juga:  KH Masduki Imam Istighosah yang Fenomenal
Artikel ini telah dibaca 115 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Safari Ramadhan BUMN 2024 Bagikan sembako murah

1 April 2024 - 13:54 WIB

Konsolidasi Tani Merdeka Jateng: menuju Pendirian Posko dan Kongres Tani Merdeka

23 November 2023 - 08:43 WIB

BEM Universitas Ipwija Gunung Putri Bogor Adakan Kajian Gema Toleransi, Hadirkan Habib Husein Bin Muhsin

14 Oktober 2023 - 06:44 WIB

Bolone Mase Yogyakarta Menggelar Ritual dan Mujahadah untuk Dukung Prabowo-Gibran

26 Agustus 2023 - 08:48 WIB

Menghadapi Kesepian di Usia Senja

15 Agustus 2023 - 16:47 WIB

Strategi untuk Manula

15 Agustus 2023 - 13:45 WIB

Trending di Kesehatan