Menu

Mode Gelap

Hot News 17:14 WIB ·

Perjalanan Rokhani Seorang Khalwater: Bambang Supeno, Dari Seorang Penjual Garam Krosok Menjadi Miliarder


					Perjalanan Rokhani Seorang Khalwater: Bambang Supeno, Dari Seorang Penjual Garam Krosok Menjadi Miliarder Perbesar

….Dunia ini panggung sandiwaraCeritanya mudah berubah…

BBOneNews,’Demikian petikan syair lagu ‘Panggung sandiwara’ yang populer dinyanyikan Ahmad Albar, di ciptakan oleh Ian Antono, dan liriknya di tulis oleh Taufik Ismail, di tahun 1978.

Firman Allah SWT juga menyampaikan bahwa “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu.” (QS. Muhammad: 36).

Begitulah Allah menggambarkan kehidupan di dunia ini yang penuh permainan dan Senda gurau dalam panggung besar bernama alam semesta ini.

Seluruh makhluk yang dihadirkan di jagat raya ini adalah aktor aktor dengan peran dan lakon lakon yang sudah ditetapkan sang maha sutradara, Allah SWT.

Seorang aktor yang baik akan tunduk pada script yang sudah di tentukan sesuai dengan peran yang diberikannya dan berusaha semaksimal mungkin untuk melakoni peran itu agar alur cerita dari  sandiwara yang dihasilkan menjadi tontonan yang menarik dan tentunya menghibur.

Tersebutlah ada seorang aktor pada kehidupan khalwat KH Buya Syakur Yasin yang menarik untuk sekedar menggambarkan lakon lakon yang dijalaninya sampai kepada lakon dimana sekarang dia berperan.

Dia adalah Bambang Supeno, seorang pria tambun yang lahir di blok Kemped, Desa Wirakanan, kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, 45 tahun yang lalu.

Dia salah satu murid dari seorang guru bernama Kyai Muhammad Yunus, pimpinan pondok pesantren Al-Mukhlasun, desa Wirakanan. Tempat Bambang Supeno Dilahirkan.

Sementara Kyai Yunus adalah murid dari KH Buya Syakur Yasin pimpinan Pondok Pesantren Cadang Pinggan, Kabupaten Indramayu.

Dalam perjalanan di awal awal khalwat KH Buya Syakur Yasin, nama Kyai Yunus selalu ditunjuk oleh KH Buya Syakur Yasin Sebagai pembimbing langsung di lapangan, ketika beliau tidak berada di lokasi khalwat.

Alkisah di tahun 2008 Bambang Supeno hang waktu itu masih menjadi Santri Kiai Yunus, mengikuti gurunya untuk melakukan khalwat, Bambang pun mengikuti petunjuk yang diperintahkan Kiainya dalam tatacara khalwat. Kareba tetaatannya pada guru, khalwat kala itu pun dijalaninya dengan sungguh sungguh. Didampingi Kyai Yunus ditempat yang sama. Bambang mengikuti saja perintah gurunya. Dan saat itu Bambang belum begitu mengenal KH Buya Syakur Yasin yang ternyata Gurunya Kiai Yunus. Guru dari Gurunya.

Dalam kehidupan kehidupan sehari hari, seorang Bambang Supeno adalah penjual garam krosok. Dia menawarkan dagangannya dengan berkeliling di desa. Menggunakan sepeda tua yang dipinjami dari temannya.

Setiap hari dia berkeliling menjajakan dagangannya dengan hasil yang tidak mencukupi untuk kebutuhan kehidupannya. Namun toh demikian, pekerjaan itu dia tekuni dan terus dijalaninya. Tentu saja dikaarenakan tidak adanya modal untuk membuka usaha lain yang lebih layak.
Di tengah panas dan terik matahari dia tetap bersemangat dari pagi sampai sore pekerjaan Menjual Garam Krosok lakoni sebagai pedagang keliling. Sungguh kesabarannya itu sangat teruji.

Sampailah pada masa khalwat berikutnya, tidak lupa Bambang pun diajak oleh gurunya untuk berangkat khalwat. Kebedangkatan khalwat kali ini gurunya memberikan iming iming dengan mengatakan kwpada Bambang muda, “mudah mudahan dengan khalwat yang kedua ini nasibmu bisa berubah,” kaya Kiai Yunus kepada Bambang Supeno.

Tibalah saatnya Kiai Yunus mengajak berangkat khalwat Bambang, saat itu dirinya masih sedang berjualan garam krosoknya di desa tetangga.
“Bang…Bambang..!” Terdengar teriakan orang memanggil namanya dari jalan sawah yang sedang Bambang lalui dengan sepedanya dan barang dagangannya di krombong belakang sepeda.
“Ayoo cepet pulang Bang. Ditunggu Guru di pesantren, mau diajak berangkat khalwat sekarang juga oleh Guru,” kata temennya kepada Bambang yang lagi ngos ngosan nggenjot sepedanya.
Karena kepatuhannya kepada gurunya sangat luar biasa, dengan semangat ’45 apalagi sebelumnya di iming imingi perubahan akan nasibnya. Saat itu juga dagangan garam krosoknya beserta sepeda pinjamannya ditinggalkan begitu saja di pinggir sawah. Bambang seperti berlari untuk segera memenuhi panggilan Guru berangkat khalwat.

Pemilik sepeda pun bingung, sudah beberapa hari sepedanya tidak pulang, sempat pula mencari keberadaan sepedanya. Bahkan pemilik sepeda mendatangi lokasi khalwat dimana Bambang berada, hanya sekedar menanyakan dimana sepeda yang dipinjamkannya itu. Yang pada akhirnya dimaklumi oleh pemilik sepeda.

Baca juga:  Jurus Sakti Mengendalikan Emosi

Setelah selesai menjalani khalwat, kali ini Bambang mencoba banting setir mencari peluang pekerjaan yang lain yang ada dibsekitar desanya, selain sebagai pedagang garam krosok keliling.

Bambang berpikir keras, untuk menjadi petani dia tidak punya sawah bahkan untuk kontrak lahan sawah pun belum mampu. Sementara di desanya cukup subur pertaniannya.

Pada saat panen raya padi tiba tiba dia mendapatkan ide untuk menjadi perantara penjualan hasil panen padi. Dengan membayangkan bahwa pekerjaan yang akan dilakoninya ini memberi harapan lebih baik daripada menjadi pedagang garam krosok.

Jadilah bambang sebagai perantara penjualan hasil panen padi. Dari hasil percaloan gabah yang dijalani terkumpullah keuntungan dari jasa itu sebesar 5 juta rupiah. Uang sebanyak itu belum pernah ia pegang selama menjadi pegang garam krosok. Kini setelah beralih pekerjaan menjadi perantara penjualan padi baru merasakan dan memegang uang 5 jt.

Uang dari hasil keuntungan itu kemudian digunakan untuk kerjasama dengan dua orang rekannya untuk menyewa bangunan selep/huller padi kecil kecilan yang biasa disebut ‘pabrik’ di kampungnya.

Ternyata Usaha kerjasama itu tidak bertahan lama, alias bangkrut ditengah jalan. Karena salah kelola dan terjadi perselisihan antar sesama investor, karena masing masing menonjolkan egonya.

Berulang kali kerjasama dengan orang lain juga pada akhirnya bangkrut karena persoalan manajemen yang tidak profesional, termasuk kerja sama dengan saudaranya sendiri, sebut saja H. Nur, pun berakhir dengan kerugian yang sama. Bambang Supeno memang dikenal pejuang tangguh, dia tidak pantang mundur dan menyerah. Sementara Kyai Yunus, gurunya Bambang mulai sakit sakitan. Dan Bambang yang menjadi santrinya masih perlu mencari figur guru yang dibutuhkan. Sebagai pembimbing dalam menjalani kehidupannya selalu terhadang badai. Bambang masih butuh bimbingan dari orang orang alim, intinya.

Melihat keseriusan Bambang mencari sosok figur yang dapat  membimbing selain gurunya yang sedang terbaring sakit, seorang teman sesama santri Kyai Yunus mencoba mengenalkan Bambang kepada KH Buya Syakur Yasin yang merupakan guru dari gurunya atau mbah guru.

Berangkatlah Bambang ke pondok pesantren Cadang Pinggan diantar seorang teman santri yang sudah lebih dahulu menjadi santri dan mengenal KH Buya Syakur Yasin.

Dengan antusias mendapatkan pembimbing barunya, dia memperkenalkan diri kepada KH Buya Syakur Yasin kalau dirinya adalah santri dari Kyai Yunus dan mengabarkan kondisi gurunya yang sedang sakit selanjutnya dia memohon agar dirinya bisa mendapatkan juga bimbingan dari KH Buya Syakur Yasin.

Setelah dirinya diterima menjadi seorang santri baru dan menceritakan kisah kehidupannya yang masih serba kekurangan dan jauh dari kehidupan normal pada umumnya akhirnya dia memohon izin kepada KH Buya Syakur Yasin untuk melakukan khalwat selama 40 hari di luar waktu kegiatan khalwat rutin.
Dengan harapan agar usaha usaha yang di lakukannya tidak selalu buntu dan berakhir bubar jalan.

KH Buya Syakur Yasin memberikan restu kepadanya untuk melakukan khalwat di laut tidak seperti biasanya yang dilakukan di hutan. Tempat yang ditunjuk adalah di majelis laut Tegal Agung, Karangampel Indramayu.

Dengan tekad yang bulat, perjalanan khalwat di laut dia jalani sendirian dengan spirit dan restu dari gurunya guru.

Gangguan dan cobaan selama khalwat yang menghantuinya, berhasil dilawan dan mencoba sekuat mungkin untuk tetap bertahan karena kesungguhannya pada  bimbingan guru.

 

Pada hari ke -16 dari perjalanan khalwatnya saat sedang khusuk berzikir tiba-tiba air laut rob masuk menggenangi tempatnya berzikir. Tanpa terasa sudah sampai merendam lututnya yang sambil bersila.
Disaat itu juga istrinya mengabarkan kalau rumahnya kebanjiran dan memintanya untuk segera pulang.

Namun seorang Bambang tidak mudah begitu saja untuk meninggalkan tempatnya khalwat sebelum mendapatkan izin dari KH Buya Syakur Yasin untuk pulang meninggalkan khalwatnya atas permintaan istrinya.

KH Buya Syakur Yasin yang dikabarinya akhirnya mengizinkannya untuk sementara dia pulang hanya membereskan rumahnya yang kebanjiran dan setelah itu meneruskan kembali khalwatnya.

Dalam menjalani khalwat yang baru dilakukan selama 16 hari itu, dirinya banyak mendapatkan pencerahan pencerahan bahkan gambaran tentang usahanya termasuk bagaimana mengelola sebuah ‘pabrik’ yang profesional.

Baca juga:  Ciri-ciri si Dia Minder Nembak Kamu

Sungguh dia mendapatkan gambaran secara gamblang pengetahuan usaha yang selama ini digelutinya yang sebelumnya dia tidak pernah tahu bahkan memahaminya.

Entah kenapa intuisi intuisi bisnisnya muncul berseliweran dalam kepalanya dan dia mencoba untuk merekam semua yang melintas dalam pikirannya.

Dirinya tidak hanya melakukan khalwat di dua tempat yang berbeda di hutan yang sering dilakukannya rutin dan di laut, namun dirinya selalu taat dan tunduk kepada gurunya untuk melakukannya dimanapun.
Sementara teman teman santri seperguruannya pun memberikan support yang tidak sedikit.
Istri di rumah juga tidak kurang kurang memberikan semangat dan doa untuk suaminya tersayang.

Satu waktu dirinya diminta untuk berkhalwat oleh Kyai Yunus di makbaroh kyai Hannan, komplek Pesarean desa Babakan kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon.

Semasa hidupnya Kyai Hannan adalah seorang ulama yang sangat berpengaruh di daerahnya dan juga dikaruniai kelebihan kelebihan secara metafisik atau keilmuan hikmahnya yang sangat mumpuni.

40 hari di makbaroh itu dia lakoni dengan tidak ada yang menemani.
Untuk sekedar makan sahur dan buka puasanya kadangkala dia tidak menemukan sama sekali, hanya sekedar air sumur untuk menghilangkan dahaganya karena tidak ada bekal yang dibawanya bahkan tidak sepeserpun uang yang dipegangnya.

Kecuali ada orang yang datang untuk berziarah di makbaroh itu dan mengetahui kalau ternyata ada orang yang sedang tirakat dan  berpuasa biasanya peziarah akan berusaha untuk membelikan makanan sekedarnya untuk buka dan sahur di hari itu.

Ketika ada seseorang yang memberikannya sebungkus nasi dan minuman tidak lupa diapun mendoakan peziarah itu agar selalu mendapatkan berkah dan limpahan rezeki dari Allah SWT.

Laku lampah perjalanan spiritualnya dilakukannya dengan keseriusan dan keyakinan bahwa Allah Swt pasti menyaksikan dan mendengar zikir dan doa doanya sehingga sangat mungkin bahwa Allah adalah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang akan mengabulkan hajatnya apalagi tirakatnya bersanad dari guru guru pembimbingnya.

Sekali waktu ada seorang peziarah di makbaroh Kyai Hannan yang melihat kesungguhan Bambang dalam menjalani tirakatnya  mengatakan kalau dirinya bakal menjadi orang mulia dan berlimpah secara materi dan akan banyak orang yang ikut merasakannya.

Selalu saja setelah menjalankan khalwatnya dia tidak lupa untuk berusaha dengan kemampuan yang dimilikinya mencari rezeki dengan cara syariat seperti orang orang kebanyakan, tidak hanya berpangku tangan dengan mengharap rezeki dari langit.

Dari upayanya dan relasi yang dibangunnya akhirnya dia mendapatkan kepercayaan dari sebuah perusahaan yang cukup besar, rekanan dari Bulog untuk memasok beras dengan nilai kontrak sampai dengan ratusan bakan sampai ribuan ton beras.
Kebetulan saja pada saat itu Bulog memang membutuhkan pasokan beras produk dalam negeri dengan kebutuhan yang besar untuk menutupi kebutuhan pangan nasional.

Dari nilai kontrak yang cukup besar itu pastilah dia berhubungan erat dengan huller huller atau tempat tempat selep padi di seantero Jawa khususnya di Jawa Barat, demi dapat memenuhi kontrak pasokan yang disepakatinya dengan perusahaan dimana dia bermitra.

Komitmen dan semangat yang pantang menyerah didasari dari kewajibannya yang besar untuk memenuhi kuota pasokan berasnya, tidak jarang dia tidur dimanapun bahkan sampai tidur di tempat selep padi rekanannya hanya untuk memastikan produksi yang dihasilkannya tepat waktu.

Melihat attitude  atau sikap Bambang yang begitu totalitas dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, seorang pengusaha huller yang cukup besar akhirnya juga mengajaknya untuk menjadi mitra tetap bahkan bekerja sama dalam pengelolaan huller nya. Karena bagaimanapun juga akan menjadi solusi bersama yang saling menguntungkan.

Dengan huller yang digarap dengan baik akan menghasilkan produksi yang meningkat naik sesuai standar produksi yang dapat diserap pasar.
Dan dengan hasil yang diharapkan seperti itu. Maka, Bambang pun tidak perlu kerepotan untuk mendatangi terlalu banyak tempat huller hanya untuk memenuhi pasokannya.
Betul betul kerjasama yang baik dan win win solutions.

Oleh pemilik perusahaan selep itu, Bambang pun dipercaya menjadi pimpinan operasional perusahaan.

Menjadi orang nomor satu dalam perusahaan barunya dia tidak tinggal diam namun berusaha untuk selalu membuat terobosan terobosan baru yang inovatif dan belum terpikirkan oleh pesaing pesaingnya.

Baca juga:  Jurus Sakti Anti Cerai

Sampailah pada inovasi untuk melakukan upaya sortir beras yang menjadikan mutu beras menjadi meningkat. Dengan begitu harga akan ikut terdongkrak.
Inovasi dengan alat sortir beras tidak hanya untuk kebutuhan perusahaannya sendiri tapi juga bisa disewakan kepada perusahaan lain yang membutuhkan jasa sortir beras.

Berharap dengan memiliki alat ini, perusahaannya akan menjadi pioneer diantara perusahaan sejenis di daerahnya dalam mengolah hasil produksinya.

Ambisinya untuk memiliki alat ini terkendala pada keuangan perusahaan karena harga dari alat ini mencapai 2 milyar rupiah.
Nilai itu hanya bisa untuk membeli alat sortir produksi Jepang.
Padahal dia menginginkan yang terbaik dengan alat produksi dari Jerman, yang harganyabjauh lebih mahal dari produk Jepang.

Keterbatasan kemampuan keuangan dan keinginan yang kuat untuk memiliki alat itu membuatnya menjadi semakin giat dalam bekerja.

Bagaimanapun juga karena Bambang adalah seorang santri, maka dia tidak melupakan Gurunya untuk menyampaikan keinginannya tersebut.

Pada perjumpaan dengan KH Buya Syakur Yasin, Bambang menyampaikan maksud keinginannya itu dan memohonkan doa untuk bisa segera mendapatkan uang sebesar 2 milyar agar segera bisa merealisasikan rencananya.

Namun KH Buya Syakur Yasin tidak langsung mengiyakan untuk menuruti keinginannya mendoakan begitu saja. Ada syarat yang harus dipenuhi oleh Bambang agar yang di cita- citakannya terwujud.

Syarat yang harus dipenuhinya adalah berjanji atas nama Allah SWT, kalau apa yang di inginkannya di ijabah atau terkabul maka Bambang harus ‘mengurusi anak anak yatim dan duafa’ yang ada di kampungnya.

Bambang pun meng iyakan dan berjanji untuk melaksanakan semua itu dihadapan KH Buya Syakur Yasin dan tentunya disaksikan Allah SWT.

Semua atas takdir dan kehendak Allah SWT. Hajat Bambang untuk bisa memiliki uang 2 milyar untuk keperluan pengembangan usahanya terkabul hanya dalam beberapa bulan saja. Alhamdulillah.

Akhirnya keinginan untuk bisa memiliki mesin sortir beras terwujud dan ternyata benar apa yg menjadi harapannya bahwa perusahaannya menjadi leader untuk urusan kualitas produksi berasnya.

Begitupun ketika dirinya punya rencana untuk meregenerasi mesin mesin produksinya dengan kualitas terbaik dengan mesin mesin import yang harganya sangat fantastis, mencapai 20 milyar rupiah.

Kembali lagi Bambang menghadap gurunya KH Buya Syakur Yasin dan juga diminta dengan syarat yang sama namun tentunya dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Dengan hanya beberapa tahun saja keinginan untuk mendapatkan uang sebesar itu dikabulkan Allah SWT bahkan nilainya lebih besar lagi dari yang dibutuhkannya bahkan bisa untuk investasi perusahaan berikutnya.
Subhanallah.. Alhamdulillah.

Konsekuensi Bambang untuk memelihara anak yatim dan duafa tetap dijalankannya dengan kesungguhan hati bahkan semakin menyebar di desa desa yang lainnya.

Begitupun pada khalwat KH Buya Syakur Yasin untuk urusan dapur terutama untuk kebutuhan beras, dari tahun ke tahun Bambang selalu membantu sepenuhnya selama 40 hari bahkan melebihi dari kebutuhan yang ada.

Dalam khalwat tahun ini, dimana peserta selalu bertambah dan dia ingin berkiprah untuk memberikan yang terbaik bagi peserta dan tamu tamu khalwat. Karena itu fasilitas yang ada di lokasi khalwat direnovasi besar besaran oleh Bambang.

Dari kemajuan perusahaannya betul betul diaplikasikannya kepada siapapun yang pantas untuk dibantunya sesuai dengan janji kepada Gurunya.

Termasuk Pesantren Al Mukhlasun, peninggalan gurunya kyai Muhammad Yunus yang sudah wafat. Sudah barang tentu tidak luput dari bantuan Bambang, seperti membangun  asrama tambahan untuk santri, memberikan bantuan bahan makanan santri setiap bulannya termasuk membayar honor ustadz ustadzah yang ada, juga mebebaskan biaya bulanan santri, sehingga santri hanya fokus pada belajar dan mengaji.

Seorang Bambang hanya menjadi contoh saja karena betapapun kalau Allah sudah berkehendak maka terjadilah dan tidak mampu dicegah oleh apapun.

Dalam surat Ar Rad pada ayat 11 juga menegaskan bahwa nasib seseorang ditentukan bukan oleh usahanya sendiri. Allah SWT bahkan tidak akan mengubah nasib seseorang, sekalipun orang  tersebut berusaha untuk mengubahnya.

Akhirnya dalam lirik lagu ‘Panggung Sandiwara’ Achmad Albar mengakhirinya dengan kalimat,”Mengapa kita bersandiwara…”

Wallahu A’lam

(Asmismus)

Artikel ini telah dibaca 129 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Safari Ramadhan BUMN 2024 Bagikan sembako murah

1 April 2024 - 13:54 WIB

Konsolidasi Tani Merdeka Jateng: menuju Pendirian Posko dan Kongres Tani Merdeka

23 November 2023 - 08:43 WIB

Bolone Mase Yogyakarta Menggelar Ritual dan Mujahadah untuk Dukung Prabowo-Gibran

26 Agustus 2023 - 08:48 WIB

Relawan Bala Gibran Tegak Lurus Gibran Rakabuming Raka Cawapres Prabowo 2024

30 Juli 2023 - 12:28 WIB

Deklarasi Papera di Pasar Wonogiri: Upaya Menjembatani Pedagang Tradisional Menghadapi Perdagangan Global

18 Juli 2023 - 09:34 WIB

Siswa Kelas 3 SD Negeri Pasuruhan 1 Mertoyudan Magelang Menyelamatkan Sungai dari Sampah

17 Juli 2023 - 11:10 WIB

Trending di Hot News