Menu

Mode Gelap

Hot News 02:28 WIB ·

Saropah: Tidakkah Kau Mencintaiku, Kekasih…


					Saropah: Tidakkah Kau Mencintaiku, Kekasih… Perbesar

BBOneNews,-Saya mulai mengenal dengan KH Buya Syakur Yasin pada tahun 2019 dari fb. Saya tidak sengaja melihat Video Buya syakur, Waktu itu saya tidak tahu siapa namanya. Saya hanya bertanya tanya dalam hati, “kok ada kyai ngajinya beda ya?” Gumam saya dalam hati.
Yang saya rasakan saat itu, apa yang disampaikan Buya berasa mengena. “Nendang banget,” meminjam istilah anak anak zaman sekarang.

Akhirnya, sengaja saya beli paketan youtube, aku cari kajiannya tentang apa saja. Pokoknya aku ingin ngaji dengan beliau.

Siang malam saya colokin mata ini untuk youtube Buya Syakur. Berhari hari, berminggu minggu aku menikmati suara Buya yang teduh, yang seolah olah sedang membicarakan yang sedang aku alami, bahwa ternyata yang disampaikan Buya Syakur adalah apa yang sedang saya alami hampir pada setiap waktu, setiap saat dalam hembusan nafasku .
Pada minggu ke empat, semakin gencar aku menikmati gelombang cintanya Buya Syakur. Sampai pada suatu hari saya ngebaca postingan akun fb: Santri Buya Syakur Yasin, ada informasi kalau Buya Syakur akan ngaji di desa Warukawung, kecamatan Depok kabupaten Cirebon.
Desa Warukawung itu tetangga desa saya. Hanya 5 menit perjalanan naik motor dari rumah.
Saya inbox ke akun itu, sambil wanti wanti ke pemilik akun itu. “Tolong tunggu sebentar, paling lama 5 menit saya akan sampai lokasi. Saya adalah santri online Buya, ingin bisa ketemu dengan Buya syakur!” aku berpesan seperti itu.
Niatku datang ke lokasi pengajian adalah, saya berharap bisa salaman wolak walik dengan beliau, izin kalau saya ikutan ngaji online. Agar bisa menyerap ilmu Buya Syakur dari youtube. Dan ilmu yang saya dapat bermanfaat, bisa saya fahami dan teraplikasikan dalam keseharianku.
Alhamdulillah bisa bertemu dengan beliau dan berhadap hadapan. Kutatap mata teduh itu, kutatap mata penuh kasih itu. Saya nggak bisa menahan air mata. Air mataku tumpah di telapak tanganku yang kemudian kuayunkan ke tangan beliau untuk menciumnya. Kupegang erat erat tangan itu sambil berbisik.”Punten Buya, Kula Saropah santri online
Mohon izin ngaos lewat online nggeh Buya…” saya terbata bata menyampaikan permintaan ini ke buya sambil masih mencium telapak tangan Buya dengan kencangnya.
Habis itu terasa saya tersadarkan, ternyata masih banyak tamu yang antri untuk bersalaman dengan beliau. Aku minta maaf, bergeser ke samping, dan mencari tempat duduk yang agak menjauh.
Aku minta dimasukkan dalam grup WA kepada salah satu santri buya yang mendampingi Buya Syakur dalam acara pengajian itu.

Sejak perkenalanku dengan Buya Syakur, berapa bulan kemudian, saya mendapatkan informasi tentang ibadah khalwat yang rutin dijalankan oleh santri santri buya. Dalam otakku bertanya tanya apa itu khalwat?
“Boleh gak ya saya mau ikutan ibadah itu? Bagaimana supaya mendapatkan informasi yang rinci soal khalwat?” Pertanyaan dalam batinku bergejolak.

Baca juga:  Peresmian SekBer PKB Gerindra

Saya mendapatkan kabar kalau khalwat waktu itu hanya untuk peserta lelaki saja, karena masih banyak mendapatkan kecaman dari berbagai pihak.
Saya membayangkan diri saya sendiri. Saya ini perempuan. Dan bagaimana caranya supaya saya bisa ikut khalwat.

Saya hampir sering ketemu dan bertandang ke pesantren Cadang Pinggan, khusus ingin bertemu dengan beliau. Pertimbangan dan jawaban beliau pun saya dapatkan. Dan saya mendengar sendiri dari jawaban beliau.

Buya Syakur memutuskan di tahun 2019, dari kalangan perempuan diijinkan untuk mengikuti kholwat. Maksudnya dengan ijin khusus hanya sebagai “penggembira”. Bukan peserta peserta khalwat murni. Sempat kaget juga aku mendengarnya.

Buya memang hebat. Untung saja beliau tidak bilang sebagai peserta “penghibur”, selorohku dalam hati.

Sekali lagi, kenalkan nama saya Saropah santri kalong Buya yang saat itu saya masih kehijab persoalan dunia. Sampai sampai saya tidak diperkenalkan dengan yang namanya seorang kyai atau orang sholeh pada waktu itu. Saat itu,di 2019 saya benar benar oleng jiwa raganya. Terjadi ketidakmenentuan hidup. Serasa mati hidup ini. Karena Allah ambil semua; Suami, anak anak, rumah tangga, bisnis, dan kehidupan mewahku telah diambilnya. Sampai aku merasa bahwa sudah tidak ada lagi orang yang bisa membantuku kecuali Allah.
Bisnisku hancur, dari seorang perempuan yang mengendalikan bisnis fashion yang berpenghasilan sebulan bisa mwncapai 50 jt ke atas menjadi diNolkan. Habis semua tersapu tsunami dalam kehidupanku.

Ya..namaku Saropah, yang saat itu hidupku tak tentu arah. Seperti layangan putus.
Antara tahun2017-2019 adalah saat dimana kekritisan dalam hidupku benar benar nyata. tidak ada apa apa. Kosong.
Saya nggak puya apa apa, nggak punya duit, tabungan nol rupiah bahkan minus.
Tetapi saya, telah dimanjakan oleh makna bahwa: “apa saja bisa dan kemana saja bisa.”

Pada saat kapal sedang oleng, bisnis hancur, saya seperti sedang dan mau akan dimutasikan ke satu hal pilihan pekerjaan, yaitu di dunia travel umroh dan haji, dengan posisi sebagai marketingnya. Dari situ sementara saya mendapatkan fasilitas dunianya. Saya masih belum bisa berpijak, pegangan, pijakan hidup dalam kondisi ditinggal anak dan suami.

Ketika saya mengikuti khalwat pertama kali tahun 2019, saya tidak meminta apa apa. Karena saya bingung dan linglung. Dengan begitu banyak persoalan yang saya rasakan. Apa yang akan aku minta terlebih dahulu. Saya tidak tahu. Suamikah yang kuminta?
Bisniskah? Bisa bayar hutangkah?
Akhirnya saya tidak meminta apa apa dalam khalwat pertamaku itu. Hanya minta diampuni dosa dosaku dan meminta supaya bisa merasakan apa itu cinta kepada Allah. Meskipun Allah tidak kelihatan bagaimana caranya saya bisa mencintaiNya yang tidak kelihatan itu. subhanallaah
Waktu itu benar benar aku baru memperdalam ilmu ketauhidan hanya dari Buya saja. Selama ini belajar saya tentang agama hanya kulitnya saja, tentang bab sesuci dan hukum syariat. Ituupun hanya “supinah sulamuntaufik” nggak paham maksudnya dan entah paham atau tidak. Saya tidak mengerti.
Dengan kesulitan saya pada waktu itu, tidak adanya ongkos untuk berangkat ke alas, dengan nekat setelah 2 minggu aku berupaya nyari ongkos. Saya berpikir untuk ke laut saja dahulu.
Dari laut kebetulan ada tamu dari palembang yang mau mengikuti kholwat, pikir saya bisa nebeng ikut ke alas gratis.
Karena perjalananku sampai alas di pertengahan khalwat, saya hanya dapat puasa 2 minggu, dan di alas sampe lebaran haji. Itupun hanya seminggu puasa, seminggu kena haid. Jadi saat haid juga tidak puasa hanya zikiran.

Baca juga:  KEK Pariwisata Indonesia

Wkt di alas saya dikasih pengalaman batin yang nyata antara mimpi dan tidak ketika saya zikiran. Aku melihat terang cahaya dalam kegelapan, seperti neon di atas pepohonan jati. Saya melihat seperti ada orang yang lalu lalang di atas pohon tetapi tidak memakai baju. Pandangan mata saya tidak terbatasi sejauh jauhnya memandang cahaya terang itu terlihat. Aku menutup mukaku dengan telapak ganganku, sambil berucap muka,”Ampun gusti, saya datang ke alas ini tidak meminta ini,” sambil tanganku menunjuk di atas dedaunan pohon jati itu. Saya tidak tahu maksudnya atas penglihatan mata batinku itu.

Masih di alas, sekali waktu saya seperti ditemui buya yang sedang memakai kaos oblong putih dan peci putih memegang pundakku sambil berkata,”sabar…” Katanya. Dan hanya itu yang diucapkannya.

“Enggeh buya,” jawabku sambil meneteskan airmata.

Beberapa hari sepulang dari khalwat, saya tidak merasakan apa apa, apalagi ada isyarat yang menunjukkan atas permintaanku ketika khalwat.

Pada malam malam berikutnya, mulai ada keanehan dalam perjalanan spiritualku. Lima jariku bergerak sendiri seperti kipas. Dan secara tidak sadar aku bilang aneh kemudian bilang,”enggeh gusti engkau ada, dan aku merasakannya.”
Sejurus kemudian Seperti ada yg menyentuhku, tetapi tidak seperti sedang menyentuh. Aku berpikir apakah ini yang disebut halusinasi?

Saya Saropah, sebenarnya sudah menjanda dua kali.
Akhirnya saya dilamar oleh seorang kyai untuk dijadikan istrinya yg ke dua. Saya tidak ingin menyakiti siapa pun, apalagi saat ini saya mau diajak poligami.
Dialog ku mulai kenceng,
“Maksudnya apa ini ya Allah?Kalau dari rasaku aku tidak mau.Tapi apabila ini kehendakMu, Aku menyerahkan diriku sepenuhnya. Saya ijab syiri dengan kiai itu.Ternyata saya diberi rasa yang luar biasa dengan perangai kyai itu yang temperamental.

Baca juga:  Testimoni Khalwat KH Buya Syakur Yasin: PENUH CINTA

Dari situ saya mulai belajar melihat gerak Tuhan. Tiga bulan pertama diperisteri sang kiai itu, saya merasakan seperti orang yang sedang sakit jiwa. Diperlakukan oleh kiai itu dengan perasaan serba salah. Disebut sebagai kyai tetapi sholatnya seperti tidak teraplikasi dalam dirinya.
Herannya, sampai sampai ketika saya baru mendengar suara mobilnya saja, saya langsung gemeteran luar biasa. Saya sangat ketakutan pada waktu itu.
Saya harus mencari tau bagaimana menaklukkan rasa takutku pada kiai itu.

Ternyata selama 2 th saya telah dikirim Izroil yg mematikan saya dengan semua kejadian kejadian yang membuat saya belajar fana. Menghilangkan diri dengan terpaksa dipaksa atas kejadian kejadian yang saya alami. Karena kalau saya tidak meniadakan diri saya akan merasakan
Sakit berdarah darah seperti dikuliti.

Saya dapat makna khalwatnya dari kejadian kejadian yang terus menderaku. Dan memaksaku untuk menyepi dalam ramai.
Dalam perkawinan gelapku, saya masih mengaji dengan beliau, Guru Mulia Buya Syakur Yasin.
Sampai saya dihadapkan pada satu pilihan. Antara pilih kiai itu atau buya.

Ternyata jawaban dari
Dari semua permasalahanku ada pada gelombang cintanya buya. Sampai sampai saya merasakan kalau puisi gelombang cinta yang sedang dibacakan itu diperuntukkan buat saya.
Judul gelombang cinta yang yang sedang dibacakan itu kalau tidak salah, “Masihkah Kau Mencintaiku.”
Yang membuatku seperti dibutakan mata batinku.
Bahwa pengabdian Saropah berada di tempat yg salah, bukan disitu.
Puisi itulah yang kemudian seperti saya dalam proses pemisahan dengan kiai itu. Termasuk seperti sedang menghajar fisik kiai itu. banyak lg termasuk menghajar psikis kyai itu. Dan akhirnya, aku bisa pisah dengan beliau, sampai sampai banyak orang bilang kok bisa lepas dari dia.
Betapa Allah Maha Indah.
Dan selesainya dengan beliau pun sangat indah dan romantis.
Aku bilang ke beliau, tugasku selesai.

Ada banyak perubahan pada dirinya ķsaat itu. beliau berkaca kaca matanya. Antara melepas dan kasihan.
Akhirnya ada Duda keren yang kini mendampingiku. Aku bahagia bersamanya. HAJI Tia namanya.
Saropah tidak menjanda lagi. Saropah bahagia bersama haji Tia, pendamping setiaku saat ini.

Artikel ini telah dibaca 79 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Safari Ramadhan BUMN 2024 Bagikan sembako murah

1 April 2024 - 13:54 WIB

Konsolidasi Tani Merdeka Jateng: menuju Pendirian Posko dan Kongres Tani Merdeka

23 November 2023 - 08:43 WIB

Bolone Mase Yogyakarta Menggelar Ritual dan Mujahadah untuk Dukung Prabowo-Gibran

26 Agustus 2023 - 08:48 WIB

Relawan Bala Gibran Tegak Lurus Gibran Rakabuming Raka Cawapres Prabowo 2024

30 Juli 2023 - 12:28 WIB

Deklarasi Papera di Pasar Wonogiri: Upaya Menjembatani Pedagang Tradisional Menghadapi Perdagangan Global

18 Juli 2023 - 09:34 WIB

Siswa Kelas 3 SD Negeri Pasuruhan 1 Mertoyudan Magelang Menyelamatkan Sungai dari Sampah

17 Juli 2023 - 11:10 WIB

Trending di Hot News