Menu

Mode Gelap

Filsafat 07:50 WIB ·

Sastra untuk Indonesia


					Sastra untuk Indonesia Perbesar

Sastra (Bisa) Menyelamatkan Indonesia. Bahwa sastra tidak hanya sekedar tulisan, sastra adalah sebuah pesan, misi yang harus tersampaikan kepada siapapun. Sastra untuk Indonesia, bisa menyelamatkan bangsa dan negara, adalah sebuah keyakinan dan terbukti nyata.

Pendahuluan

Pada tahun 1960 penyair Taufiq Ismail menulis sajak sajak kritis yang kemudian terkumpul dalam buku berjudul Benteng dan Tirani.

Pada tahun-tahun sekitar 1980 – 1990 an menulis sajak sajak kritis yang dibukukan dalam judul Potret Pembangunan dalam Sajak. Pada tahun 1990an sastra Seno Gumira Ajidarma mengumpulkan cerpen tentang Timor Timur disertai Kredo yang amat kritis dan berani: Ketika Jurnalistik Dibungkam Sastra Berbicara. Dan di tahun-tahun 1940an penyair Chairil Anwar berteriak dalam puisinya: Kalau sampai waktuku kumau tak seorang pun kan merayu.
Sastra indonesia, karya musthofa hasyim, sastra musthofa w hasyim

Baca juga:  Menumbuhan Kesadaran Ber "Falyatalattof"

Kemudian, pada era Orde Reformasi ini sastra Sosiawan Leak memobilisasi para sastrawan untuk mengumpulkan puisi dalam buku serial Puisi Melawan Korupsi.

Apa yang sesungguhnya terjadi dengan sastra Indonesia dan apa yang terjadi dengan Indonesia sendiri ketika puisi puisi itu ditulis dengan nada kritis? Apa makna tindakan para penyair dan sastrawan itu ketika dengan beraninya menulis puisi yang kemudian menjadi puisi historis dan cerpen yang kemudian dikenang sebagai karya sastra perlawanan.

Menyelamatkan Indonesia

Sesungguhnya, para sastrawan dengan karya karyanya itu tengah menyelamatkan Indonesia. Karya sastra yang bersumber pada kejujuran, kebenaran, keberanian melawan segala bentuk penjajahan, korupsi, penindasan, kebohongan publik dan pembungkam opini. Para sastrawan adalah makhluk yang sederhana, jujur, penemu berbagai kebenaran dan berani berkata dan menulis terus terang, apa adanya, meski dengan bahasa bergaya.
Para sastrawan adalah pejuang kebenaran, kebaikan dan keinginan serta pejuang kemerdekaan hakiki, kemerdekaan hati nurani, kemerdekaan berfikir, juga pejuang kemerdekaan berpendapat dan kemerdekaan ekspresi yang murni.
Ketika Indonesia dibelit masalah masalah kebangsaan, kemasyarakatan dan masalah kenegaraan yang serius seperti yang terjadi pada masa Orde Lama dan pada masa Orde Baru serta pada masa Orde Reformasi mereka pun dengan tangkas bergerak untuk menyelamatkan Indonesia. Agar Indonesia kembali pada khittoh kebangsaannya sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan kesatuan dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.[Musthofa w Hasyim].

Artikel ini telah dibaca 28 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sambut September Ceria, Warung Soto Bang Jack adakan Kegiatan Jumat Barokah

1 September 2023 - 08:57 WIB

Hari Sungai Nasional Menguak Relief candi Borobudur dan Spiritual Sungkem Sungai

28 Juli 2023 - 13:29 WIB

Nyi Purwa Performance Art “Sungkem Kali” di Hari Sungai Nasional

28 Juli 2023 - 13:12 WIB

Khalwat KH Buya Syakur Yasin Disain Ulang Kualitas Manusia Bermakna Oleh Dona Romdona (Dai Milenial, asal Karawang Bekasi)

7 Juni 2023 - 20:37 WIB

Menumbuhan Kesadaran Ber “Falyatalattof”

20 Januari 2023 - 19:38 WIB

Terapi Sex Agro

20 Januari 2023 - 13:16 WIB

terapi sex, terapi sex sehat
Trending di Opini & Ide