Menu

Mode Gelap

Filsafat 13:12 WIB ·

Nyi Purwa Performance Art “Sungkem Kali” di Hari Sungai Nasional


					Nyi Purwa Performance Art “Sungkem Kali” di Hari Sungai Nasional Perbesar

BBOneNews.id,-Nyi Purwa, seorang seniman terkenal yang merupakan pendiri Sanggar “Watu Jawa” di Mendut dan mengampu Ruang Kreatif “PurwaKahana” di Bantul, menampilkan karya seninya dalam peringatan Hari Sungai Nasional di Kali Sileng, Borobudur Magelang, Kamis (27-7/23). Nyi Purwa juga dikenal sebagai Anggota “Ring Of Performance” The Indonesian (Nusantara) Performance Art Network di Yogyakarta.

Dalam peristiwa penting tersebut, Nyi Purwa membawakan sebuah karya filosofi yang mendalam dari karya seninya yang berjudul “Sungkem Kali.” Filosofi ini menekankan pentingnya menyatukan frekuensi alam seluruh peserta, termasuk Kali Sileng yang menjadi tokoh utama dalam acara tersebut, sebelum melakukan sesuatu yang besar dan bersama-sama.

Dengan pemahaman tentang pentingnya kesatuan dengan alam, Nyi Purwa memulai karya seninya dengan melaksanakan Sungkem kepada kali Sileng sebagai bentuk penyatuan frekuensi. Sungkem, yang merupakan bentuk penghormatan dalam budaya Jawa, digunakan dalam konteks performance art ini untuk mengakui ketergantungan manusia pada lingkungan sekitarnya, khususnya sungai yang memainkan peran penting dalam kehidupan manusia.

Baca juga:  PC GP Ansor Kebumen Inisiasi Silaturrahmi Antar Umat Beragama

“Harapannya, semua yang diawali dengan frekuensi yang sama, berakhir dengan ide-ide baru yang lebih segar untuk kegiatan selanjutnya,” kata Nyi Purwa. Dengan menyatukan frekuensi alam dan menghormati sungai, ia berharap bahwa ide-ide kreatif baru akan bermunculan untuk melanjutkan upaya pelestarian sungai dan lingkungan alam secara keseluruhan.

Pesan yang disampaikan dalam performance art “Sungkem Kali” ini adalah tentang pentingnya mencintai alam dan menjaga keselarasan dengan lingkungan sekitar. “Hang hira mung hana rahhayu” (Hong hiro mung hono rahhayu) adalah teks Jawa yang diangkat oleh Nyi Purwa sebagai pesan utama, yang berarti awal dan akhir adalah satu kesatuan yang berada dalam satu darah atau frekuensi yang baik. Pesan ini mengajak manusia untuk menyadari bahwa keberlangsungan hidup dan keberhasilan kita tergantung pada keselarasan dan keseimbangan dengan alam.

Baca juga:  Kang Maryo, Caleg Gerindra Kabupaten Cilacap: Siap Menangkan Pemilu 2024

Acara tersebut telah mencuri perhatian banyak penonton dan seniman lainnya dari The Indonesian (Nusantara) Performance Art Network. Kehadiran Nyi Purwa sebagai anggota terhormat dalam jaringan tersebut menambah kekuatan pesan yang ia sampaikan melalui karya seninya.
Hadir dalam acara itu mewakili anggota Komunitas Kali Sileng (KKS), sekolah budaya Nitramaya, Kopi Cokro, Duta Digital desa Borobudur, daya desa Borobudur, plus komunitas musik Borobudur, dan sambyawahareng boro.

Dengan performance art “Sungkem Kali” yang menginspirasi dan menyadarkan, Nyi Purwa telah memberikan kontribusi yang berarti dalam memperingati Hari Sungai Nasional dan mempromosikan kepedulian terhadap alam di tengah-tengah masyarakat. Semoga pesan yang ia bawa akan terus menggema dan menginspirasi banyak orang untuk turut berpartisipasi dalam upaya melestarikan sungai dan lingkungan hidup kita untuk masa depan yang lebih baik. Red

Artikel ini telah dibaca 52 kali

Avatar badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Deklarasi Menangkan Prabowo – Gibran, Relawan Gibranku Purbalingga

15 Januari 2024 - 08:56 WIB

17 BUMN Resmikan Program BUMN TEMAN BERSENYUM di Temanggung

20 November 2023 - 08:18 WIB

Relawan Bala Gibran Magelang Raya Bersukacita Setelah Putusan MK

17 Oktober 2023 - 11:23 WIB

Doa Bersama Gubraner Magelang Raya: Ajang Konsolidasi Relawan Bala Gibran dan Gibraner Kabupaten Magelang

10 Oktober 2023 - 16:44 WIB

Kembaran Kampung Seniman (K2S) adakan Penampilan Seni Tradisional, Musik Keroncong Legendaris dan Koes Plus-an

31 Agustus 2023 - 08:43 WIB

Barisan Relawan Gigih Berani Kedu Raya Menguatkan Dukungan terhadap Gibran Sebagai Cawapres 2024

30 Agustus 2023 - 17:27 WIB

Trending di Jawa Tengah